"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan PEMAHAMAN AGAMA kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Kamis, 16 Agustus 2012

5 Tipe Manusia yang Perlu Anda Ketahui


          Tak terasa sekarang aku, sebut saja Aziz, berada di tahun ketiga di masa perkuliahan yang bertepatan di tahun 2012, begitu cepat waktu berlalu. Aku ingat perkataan kakak kelasku yang banyak mengajarkan pengalaman kepadaku, beliau adalah seorang Presiden BEM FTI. Aku terkadang sering berdiskusi meminta saran akademik atau sekedar belajar memenej sesuatu. Dia pernah berkata kepadaku “Ziz, tahun ke dua dan tahun ketiga adalah masa keemasan seorang mahasiwa. Karena pada tahun ini engkau dapat mengembangkan passion-mu dengan optimal” begitu ujarnya. oke kak..., akan selalu ku ingat pesan mu ini, karena sekarang aku sedang menempuh tahun ketiga. Yupp, Selama empat Semester kuliah jurusan teknik Material dan Metalurgi  ITS, banyak teman dan pengalaman yang aku dapatkan. Mulai dari teman baik yang banyak aku dapatkan ketika memasuki JMMI ITS, dari yang selalu mempunyai perangai katanya yang menyejukkan hati dan yang selalu memberikan dorongan agar aku tetap bertahan  untuk memecahkan berbagai macam persoalan yang datang silih berganti. Dia ibarat sebuah teko yang mengeluarkan air yang jernih, harum baunya dan segar rasanya. Tapi bukan saatnya aku membahas ini lebih dalam. Tapi Intinya, banyak pengalaman yang aku dapatkan dalam perkuliahan ini, salah satunya tentang mengklasifikasi karakter Mahasiswa(manusia).
         Di kampus ITS ini banyak tipe manusia yang menjalani kehidupannya. Sehingga aku terinspirasi dari Imam Ibnul Jauzi rahimahullah untuk menuliskan analogi tipikal mahasiswa saat dikampus ITS yang aku cintai ini, dengan tipe manusia dalam menjalani kehidupannya. Khususnya kehidupan dalam memenej kebutuhan, keinginan nafsu serta kemampuan menggunakan potensi diri.
          Katagori pertama adalah mahasiswa yang bodoh. Meskipun sekolah bertahun-tahun di kampus, saat lulus, ia tak akan memahami apapun. Tidak ada hasil yang dia bawa dari kampusnya. Bahkan meskipun tiap kelas dengan mata kuliah yang sama, ia ulangi selama tiga kali setiap kelasnya pun, hasilnya bakal tetap sama. Menurutku orang seperti ini “tidak mengetahui tempat tujuan penciptaanya dan tidak mendapat manfaat dari keberadaanya di dunia.”
          Jika dalam kehidupan dunia yang nyata, mereka adalah orang-orang kafir yang sama sekali kosong mengenai untuk apa dia diciptakan dan ia tidak tahu apa tujuan hidup sejatinya. Juga orang-orang yang meski mengaku beragama, tapi kosong dari pada hidayah-Nya. Orang-orang semacam ini, jatah umurnya ditambahpun tidak akan berguna. Yang mereka tahu hanya memburu kesenangan duniawi dan sama sekali tak mengenal sang Khalik, apalagi hak-hak-Nya. Setan adalah kawan setianya bahkan mereka sudah naik level setingkat dengannya
Allah berfirman;
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami.” (Yunus: 7)
“Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (Yunus: 92)
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (An-Najm: 29-30)
          karena hidup tak memiliki tujuan hidup, sebagian mereka pun menyia-nyiakan hidup. Drop out dari kampus, atau frustasi karena masalah sehingga suicide. Na’udzubillah.
         Tipe kedua, sebagian mahasiswa di kampus, disamping bodoh dan malas mereka juga gemar mengganggu teman-temannya, mencuri barang dan menyakiti. Ini perumpamaan para penjahat dan pendosa. Untuk golongan ini, aku yakin para pembaca sudah paham
           Yang ketiga adalah mahasiswa (khususnya mahasiswa teknik) yang menyukai belajar teori-teori saja tapi tidak belajar eksak. Meskipun sebenarnya teorinya tidak benar-benar bagus. Setelah keluar, ia hana mampu menjelaskan yang berkaitan dengan teori-teori saja. Ini perumpamaan bagi manusia yang faham atau tertarik pada suatu hal, tapi melupakan perkara-perkara yang mendesaak dan menjadi prioritas.
          Mereka adalah orang-orang yang tertarik mendalami hal-hal tertentu yang tidak “penting” dan melupakan agama. Orang-orang ini sangat menggilai kegemarannya, menguasai tapi tak tahu mengenai diennya (agamanya) kecuali sedikit. Kalau ditanya mengenai kegemarannya, insyaAllah anda memperoleh jawaban yang excelent lah karena pengetahuannya yang luas dalam bidangnya. Tapi jangan ditanya soal fiqih apalagi soal mahzab yang sederhana aja, ampun broo...hanya senyum kencur yang anda dapatkan.
Allah berfirman
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat (batin) adalah lalai." – (QS.30:7)
          Mereka rela menghabiskan banyak waktu, tenaga dan harta untuk memenuhi keinginan. Sedang untuk akhirat mereka kikir.
          Tipe ini merupakan tipe kebanyakan orang. Kita sendiri menyadari, masih sering melupakan akhirat dan menggandrungi perkara-perkara remeh yang sama sekali tidak membuat kehidupan akhirat menjadi lebih baik. Sering terjadi keadaan yang tumpang-tindih, jauh lebih berat urusan dunianya dari pada akhiratnya.
         Kita hampir selalu digembosi oleh hawa nafsu kala berniat akan belajar dien(agama). Akhirnya semangat melemah sehingga berakibat amal shalih juga menurun
         Tipe yang keempat adalah mahasiswa yang selalu serius dalam belajar. Ia selalu termotivasi untuk mencapai prestasi sehingga ia selalu mengejar prestasi-prestasi besar. Berpacu dengan waktu untuk mencapai hal-hal yang besar dan memuaskan. Inilah karakter mukmin yang sempurna ia mengalahkan pesaingnya di hari pertandingan dan dengan bangga telah menorehkan nilai rapor yang excelent karena rapor yang dilukis dengan catatan prestasi. Merekalah jawara kebaikan. Mereka sungguh sadar bahwa hal yang paling prioritas di dunia ini adalah prestasi akhirat. Inilah yang selalu mereka kejar-kejar dan menjadi obsesi sertaa motivasi yang tiada batas. Hidupnya benar-benar diabdikan untuk segala hal yang menjadikan tangga untuk mencapai prestasi yang gemilang di akhirat kelak yang berbuah pundi-pundi pahala.
          Yang terakhir yaitu tipe manusia yang barangkali jika diibaratkan mahasiswa adalah sebenarnya baik tetapi semngatnya lemah. Tidak memiliki gairah yang besar dan meraih prestasi yang tinggi. Dal kehidupan nyata tipe mahasiswa ini adalah orang-orang yang hanya mencukupkan diri dengan hal-hal yang wajib saja. Mereka cukup puas menadi muslim yang awam. Tidak pernah memiliki gairah untuk bejuang lebih keras, menggali potensi yang terbaik.
          Alhamdulilah telah dijelaskan beberapa tipe manusia  dalam dunia nyata. Nah, demikianlah, semoga dengan mengetahui ini kita menjadi sadar posisi kita lalu berusaha untuk memperbaiki diri menjadi yang lebih baik. Semoga Allah selalu menjaga kita. Amiin.
Wallahua’lam.(Aziz)[]

*Dinspirasi oleh Imam Ibnul Juzi dan majalah ar-risalah

Senin, 13 Agustus 2012

Did you know "Jelmaan Setan"?


P
ocong, kuntilanak, gendruwo adalah salah satu dari penampakan hantu di sekeliling kita, tapi bukan maksud kami utuk membahasnya. Memang setan dapat menampakkan diri sesuai keinginannya dalam bentuk menakutkan dan tentunya semua atas izin Allah. Tetapi yang akan kami bahas disini adalah makhuk yang kasat mata, yang dapat dilihat oleh mata telanjang yang nabi rasullullah alaihiwasalam menyebutnya “setan”. Apakah itu? Penasaran? Simak ini! Check it out

  
First
Anjing hitam
Dari Abu Dzar, Rasulullah bersabda, “ Jika salah seorang dari kalian berdiri shalat, jika di depannya terdapat benda setinggi sandaran pengendara unta (+- 50 cm), maka itulah pembatasnya. Jika pembatas itu tidak ada, shalatnya akan terpotong oleh keledai, wanitadan anjing hitam yang lewat.“ Perawi berkata, “ Wahai Abu Dzar, apa bedanya anjing hitam dengan yang merah dan kuning?” Abu Dzar berkata, “ Wahai putra saudaraku, aku bertanya kepada Rasulullah seperti pertanyaanmu kepadaku, Beliau menjawab;
“ Anjing hitam adalah setan.” (HR. Muslim dan lainnya)
Kitab Aunul Ma’bud(2/225) menyebutkan, setan kadangkala menjelma menjadi anjing hitam. Selain itu ada yang berpendapat bahwa disebut setan karena anjing yang hitam lebih berbahaya.
Di dalam hadist tersebut yang dimaksud terpottong adalah bukan batal shalatnya tetapi berkurangnya nilai shalat karena gangguan yang dapat mengakibatkan mengganggu kekusukan shalat. (Tuhfatul Ahwaszi 1/371)

Second
ular
Rasulullah bersabda;
“ Sesungguhnya di kota Madinah terdapat jin-jin yang sudah masuk islam. Jika kalian melihat salah satu dari mereka, maka berikanlah ia ijin tiga hari. Jika dia masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah karena dia adalah setan.” (HR. Muslim)
Hadist tersebut muncul karena pada suatu ketika seorang suami yang pulang mendapati istrinya ketakutan karena ada ular dirumahnya, suaminya pun bertindak tanggap dengan membunuh ularnya tetapi naas, suaminya juga ikut tewas, hal ini lalu diceritakan kepada rasulullah lantas Beliau bersabda seperti itu.
Dalam hadist lain jika engkau mendapati ular dirumah anda, cukup diberi peringatan tiga kali dengan menyebut asma Allah. Jika ia pergi biarkan tapi jika tidak, maka diperbolehkan untuk membunuhnya. Tetapi jangan sampai membunuhnya kecuali telah memberi peringatan tiga kali dengan menyebut asma Allah.

Third
burung dara
Dari Abu Hurairah, Rasulullah melihat seseorang membututi(bermain-main) burug merpati lalu bersabda,” Setan lelaki sedang membututi setan perempuan.” (HR. Abu Daud)
Burung dara disebut setan karena sering menyibukkan orang dengan aktivitas tak bermanfaat dan melalaikan dari dzikrullah bahakan dibuat judi.( Aunul Ma’bud 10/417)

Fourth
orang yang lewat didepan orang shalat
Rasululloh bersabda;
“ Jika ada yang lewat di depan kalian saat salah seorang dari kalian shalat, cegahlah ia. Jika dia enggan, tetaplah cegah dirinya. Dan jika masih saja bersih keras lewat, lawanlah ia karena ia adalah setan” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud setan adalah karena orang itu melakukan perbuatan setan dengan cara lewat didepan orang sholat. Yang perlu ditekankan “ Lawan” dalam hadist tersebut bukan berarti mengajaknya bertengkar tapi dengan cara tasbih atau isyarat tangan (mengajukan tangan ke depan seperti nyetop) . Tak heran dalam mencegah ini terjadi, mungkin karena ketidak tahuan orang, islam telah mengajarkan bahwa shalat hendaknya mendekatkan diri ke sutrah. Sutrah adalah pembatas di depan oarang shalat. Pembatasnya bisa menggunakan tembok, kayu atau tiang. Tapi kalau mahasiswa sih seringnya tasnya ditaruh di depan sebagai sutrah dan agar ga hilang (kan keliatan)

Fifth
wanita pengumbar aurat
Rasululloh bersabda;
“Wanita itu datang dengan rupa setan dan berpaling juga dengan rupa setan. Jika salah seorang dari kalian melihat wanita-lalu timbul hasrat- maka hendaknya ia mendatangi istrinya, sebab hal itu akan menghentikan nafsunya.” (HR. Muslim)
Wanita pengumbar aurat bukan maksud saya mengartikan menjadi jelmaan setan.  Hal ini hanya merupakan perumpamaan ketika wanita sedang mengumbar auratnya pada seorang lelai yang bukan mukhrim, boleh jadi lelaki itu akan mempunyai  hasrat untuk bertindak hal yang negatif, seperti halnya godaan setan.
Adapun seorang wanita keluar dari rumah dengan aurat yang tertutup secara syar’i maka jarang lelaki akan tergoda meskipun masih terdapat ada  kemungkinan kecil lelaki akan tergoda. Dalam hal ini lelaki lah yang harus pandai-pandai mengontrol hawa nafsunya. Memang terasa sulit, tapi kita harus tetap berusaha meskipun terkadang kita jatuh terpelosok.
Maha benar Allah yang telah mengutus rasulullah, dengan mengetahui hadist-hadist diatas, kita sekarang dituntut untuk lebih berhati-hati dalam bertindak, syukur-syukur dapat diceritakan kepada teman dekatnya, karena akan menjadi ladang amal anda pada saat hari dimana harta dan jabatan tidak berguna kecuali hanya amal shaleh. Dan tak lupa, kita meminta perlindungi kepada penguasa langit dan bumi,  Allah SWT. Semoga Allah melindungi Allah dari setan yang terkutuk. (Aziz)
Gimana pendapatmu tetang ini, silahkan anada berkomentar di bawah , semoga menjadi amal shaleh

10 Hak Suami sebagai Kewajiban Istri

Islam adalah agama yang paling ideal. dari yang ringan sampai yang berat telah diatur dalam islam. Mulai tata cara buang air kecil sampai tata cara pemerintahan ada dalam islam. Dan Islam juga mengatur adab-adab bergaul dalam pernikahan yang salah satunya membahas hak suami dan kewajiban istri. Hal ini bertujuan untuk membangun keluarga yang sakinah sehingga dapat menentramkan hati dari pasangan suami-istri. Inilah 10 hak suami sebagai kewajiban istri.

1. Istri yang sholeh adalah yang taat pada perintah Allah, yang menunjukkan perempuan tersebut selalu ingat pada Tuhannya.

2. Istri yang ceria itu enak dipandang, karena dia bisa merawat diri dan menjaga perbuatannya. Perempuan yang berhias di dalam rumah itu membahagiakan.

3. Istri sepatutnya selalu taat pada suami, sepanjang tidak melawan kesukaan Allah. Hal ini menunjukkan karakternya yang tulus, yang berlawanan dengan kesombongan.

4. Istri yang membantu suami dalam memenuhi janji pernikahannya, sepanjang tidak bertentangan dengan kesukaan Allah. Ini menunjukkan loyalitas.

5. Istri mesti menjaga kesuciannya, dengan melindungi kehormatan suaminya. Ini menunjukkan bahwa sang istri layak dipercaya. Ini adalah sangat penting dalam pernikahan, dan bisa berakibat menguatnya atau runtuhnya pernikahan. Ini akan mempengaruhi kedamaian hati suami dan akan sangat menggangu keberhasilannya baik di dalam maupun di luar rumah.

6. Istri menjaga kekayaan dan harta milik suami, dengan secara bijak mengolah apa yang dipercayakan padanya. Ini menunjukkan sang istri cerdas dan handal, karena istri menunjukkan kebolehannya dalam urusan suami. Ini adalah karakter luar biasa, yang sangat dibutuhkan suami yang ingin terus meningkatkan posisi keluarga di masyarakat.

7. Istri mengasuh anak-anak suaminya seperti yang diinginkan sang suami. Hal ini menunjukkan sang istri sangat mengasihi dan menyayangi, dan anak-anaknya menjadi prioritas utama.

8. Istri yang di saat ditinggal suaminya menolak orang lain masuk rumah tanpa ijin sang suami. Keluarga istri selalu diijinkan, kecuali yang dilarang oleh sang suami. Juga, di saat suami pergi, sang istri bisa menerima saudara laki-laki suami masuk rumah; namun dia hanya boleh masuk sampai ruangan khusus, seperti ruang tamu, dan saudara ipar tersebut tidak boleh berduaan dengan sang istri. Contoh lainnya, sang istri tidak semestinya meninggalkan rumah suami tanpa ijin. Sekalipun perempuan diperbolehkan untuk datang ke Masjid, namun mereka harus mendapatkan ijin dari suami sebelum berangkat ke Masjid atau hendak beribadah puasa.

9. Istri yang tidak menolak saat dipanggil suami ke tempat tidur. Pekerjaan istri di rumah memang berat, namun begitu juga godaan yang dihadapi suami di luar rumah di setiap harinya. Jadi, seorang istri yang bijak akan mengerti bagaimana caranya untuk melegakan sang suami, dengan diantaranya memenuhi hasrat suami.

10. Istri berlaku ramah pada orang tua suami. Artinya, sang istri menunjukkan keramahan pada orang tuanya, sebagaimana menantu yang baik berperilaku, dengan setia melayani mereka. Perbuatan semacam ini memperkuat ikatan suami istri, karena hal ini menunjukkan penghormatan.

Ada dua nilai penting bagi suami, yang ingin memiliki keturunan yang baik dan ingin memberikan anak mereka pasangan hidup yang baik. 
Yang pertama adalah untuk orang tua – terutama sang bapak – yang meninginkan anak-anak yang patuh, mesti menjaga perilakunya, atau anak-anaknya akan tumbuh menjadi tidak patuh. Orang tua tidak bisa memberikan pada mereka apa yang mereka tidak punyai.

Yang kedua adalah pada sahabat Rasulullah, di saat mereka membawa calon pengantin perempuan pada suaminya, menasehati mereka untuk melayani suami, dan berbuat baik pada orang tuanya.

dikutip dari untukku.com

Kajian Fiqih : ( Bab – Nikah )

Ilmu adalah sebelum beramal dan bertindak, sehingga tiada amal yang diterima jika kita tidak mengetahui ilmu dalam amalan yang akan dilakukannya.

Sehingga ilmu adalah hal yang penting dalam dalam menjalankan ibadah, bahkan menjadi syarat yang utama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. [HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah]

Demikian juga Alloh Ta’ala memerintahkan kepada umat untuk bertanya kepada ulama mereka. Firman Alloh:

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS. 21:7)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan sorga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi (pencari ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang ‘alim itu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Baramngsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak. [HR. Abu Dawud no:3641, dan ini lafazhnya; Tirmidzi no:3641; Ibnu Majah no: 223; Ahmad 4/196; Darimi no: 1/98. Dihasankan Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 2/470, hadits no: 1388]

Hadist seputar Pernikahan

Ummu Salamah ra. (Istri Nabi) meriwayatkan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Seorang perempuan, yang ditinggal mati suami dan sang suami tersebut senang padanya, akan masuk Surga”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk menyembah yang lain, aku akan memerintahkan istri untuk menyembah suaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernah Rasulullah SAW bertanya, ”Apa yang menghalangi seorang mukmin untuk menikah?…”  Kenapa para lelaki merasa berat untuk meminang seorang wanita secara baik-baik dengan mendatangi keluarganya? Apa yang menyebabkan sebagian dari pria merasa terhalang langkahnya untuk mempersunting seorang wanita yang baik-baik sebagai isterinya? 

Shalat orang yang belum menikah memang sulit mencapai kekhusu’an, apalagi memberi bekas dalam akhlaq sehari-hari. Rasulullah sendiri pernah mengatakan, “Shalat dua rakaat yang didirikan oleh orang yang menikah lebih baik dari shalat malam dan berpuasa di siang harinya yang dilakukan oleh seorang lelaki bujangan.”

Karena banyak banget keutamaan menuntut ilmu, jadi langsung denger aja kajian nikah ni, bir menjadi amalan ibadah loe n nanti klo udah nikah biar menjadi keluarga yang sakinah dan menentramkan, it made me on 

check it out !!!

2. Bab – Nikah 1               link 2
3. Bab – Nikah 2               link 2
4. Bab – Nikah 3               link 2
5. Bab – Nikah 4               link 2
6. Bab – Nikah 5               link 2
7. Bab – Nikah 6               link 2
8. Bab – Nikah 7               link 2
9. Bab – Nikah 8               link 2
10. Bab – Nikah 9             link 2
11. Bab – Nikah 10           link 2
12. Bab – Nikah 11           link 2
13. Bab- Nikah 12            link 2
14. Bab – Nikah 13           link 2



sumber : konsultasi syariah.com
             millahibrahim.wordpress.com

Jumat, 10 Agustus 2012

Surat Cinta Untuk Ayahku

Menjadi orang besar

Ayah… begitulah kami memanggilnya
Orang paling hebat yang pernah ada
Keluarga kami memang sederhana, rumah kecil, motor bekas, dan tak banyak yang lain

Hanya berjumlah hitungan jari, mahasiswa ITS yang mengenal ayah, ayah begitu biasa diluar sana
Tapi tidak di mataAllah, tidak di mata keluarga

Setiap selepas shubuh setiap hari  kami selalu berkumpul bersama keluarga, membahas al- qur’an , ayat per ayat beserta tafsir nya
Selalu lengkap, ayah, ibu, mbak, adek dan alfat
Di situ pula ayah selalu curhat, mengenai rencana keluarga kedepan, pendidikan kami anak- anaknya, perselisihan yang kadang muncul ditengah keluarga dan masih banyak hal yang lain

Kebiasaan lain adalah selalu mengajak alfat 10 tahun, satu- satu nya anak laki- laki nya dan yang paling bungsu untuk selalu sholat berjamaah ke masjid. Selalu kompak warna baju yang mereka kenakan
Ah, pantas saja si alfat sudah bisa melakukan gerakan sholat dengan benar dan sesuai sunnah, anak sekecil itu juga kini sudah hafal 2 juz

Ayah pun berkeinginan, dan keinginan itu beliau sampaikan kepada kami sekeluarga, “ ayah punya target SMP SMA alfat mondok di sragen atau gontor, dan  alfat harus sudah hafal 30 juz, terus ntar nyari beasiswa kuliah keluar negeri. Amiin..

Jika engkau datang terlambat ketika jamaah, tidak sulit unyuk menemukan ayah, lihatlah kedepan, ke shaf pertama atau kedua, carilah dia yang rambutnya hitam agak memutih, dan disampingnya seperti ada sela antara ayah dan makmum di sebelahnya, nah.. di sela itulah ternyata alfat berdiri, maklum, alfat masih kecil dan tentu tidak setinggi ayah.

Ayah yang tidak mebiarkan anaknya yang pertama pergi sendirian ke pulau Madura untuk menyelesaikan tugas kuliahnya, saat itu teman- teman sekelompok anaknya tidak bisa, ayah pun rela menemani anaknya walau kondisi letih dan pulang harus kehujanan
Ayah yang cerdas ketika memilih anaknya yang pertama yang selalu di ajaknya ta’lim di masjid al- amin, karena sadar anaknya yang pertama memang tidak pernah duduk di bangku sekolah background islam, tidak seperti adek dan alfat yang pernah merasakan pondok dan duduk di sekolah Islam terbaik

Kebiasaan lain adalah selalu mengajak kami sekeluarga untuk ke pengajian bersama setiap minggunya

Tanya lah pada ayah, apakah tidak lelah dalam seminggu selalau ta’lim kemana- mana ? Maka ayah akan menjawab “ Mumpung masih hidup “

Coba, hitung keluarga di Indonesia ini yang seharmonis mereka.. yang setiap pagi berkumpul bersama membahas agama ini, membahas kitabullah .. maka engkau tidak akan banyak dapati

Adek pun juga merasa spesial di mata ayah, saat adek operasi, ayah pertama kali menangis di depan istri dan anak- anaknya hanya karena adek tidak keluar keluar dari ruangan operasi, saat adek sekolah di Solo dan sedang akan menempuh ujian keesokan harinya, ayah rela ke Solo untuk memberi dukungan moral walau hanya beberapa jam dan tidak mau disuruh menginap,

Di jaman seperti ini, siapa yang tidak punya HP ? Ayah adalah orang sibuk yang  memilih untuk tidak punya HP karena tidak mau diperbudak dengan HP, memang benar, dalam sejam , berapa menit HP memperbudak kita, untuk membuka nya, selalu, sebelum , bangun, saat, akan dan setelah atau ditengah apapun HP memperbudak kita agar kita melayaninya

Tapi ayah juga bukan lah orang yang gaptek

Walaupun sederhana, tapi ayah dan ibu sudah pergi haji lho,, sudah ke Thailand, Lombok dan yang lain
Ayah janji, kalau mbak lulus ntar kami sekeluarga wisata ke Jakarta naik pesawat, kalau ada uang berlebih ayah juga janji kami sekeluarga bisa Umroh.. amiin

Kadang juga, ayah dan alfat pergi ke masjid sama- sama bersepeda..
Sungguh bahagianya kita

Ayah mengajarkanku, untuk menjadi orang besar, tidak perlu berpenghasilan besar, tidak harus berumah besar,
Atau Bekerja di perusahaan minyak seperti yang saya pikirkan, atau menjadi orang yang dikenal banyak orang
Bukan itu..
Tapi kita sudah menjadi besar ketika kita mampu mendidik keluarga kita, istri kita , anak- anak kita di jalan yang diridhai Allah, menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah
Memiliki anak – anak yang sholih, sholihah, dan sang penghafal

Dan seperti Ramadlan saat ini,  saat sore ayah selalu menyuruh anak –anaknya bergantian mengirim ta’jik ke masjid. Ayah melatih kami untuk berbagi dengan sesama. Namun ayah juga tidak mau mengantarkan karena takut diketahui orang saat dia bersedekah, ayah juga tidak mau daftar dalam list penyumbang tajil/ makanan yang biasanya di data oleh takmir masjid. Ayah malu sama Allah. Ayah spontan, jika ada rezeki hari itu maka ayah akan langsung bersedekah
Kami yang terasing dan tidak dikenal, tapi kami punya penguat, Ayah..

Dan pagi ini,..  lagi,  ayah membuat kami sekeluarga menangis bersama, di Jum’at pagi ini, 21 Ramadhan 1433 H
Kata- kata yang ayah sampaikan sebelum menutup ngaji pada pagi tadi:

“  Harapannya ibu, mbak , adek, alfat ikhlas ikut ngaji nya ayah ini. Ayah gak akan pernah berhenti untuk membagikan ilmu ayah yang masih sedikit ini. Beri kesempatan pada sisa umur ayah untuk selalu mengadakan momen ini. Meskipun anak- anak ayah nanti sudah menikah dan tidak serumah lagi, sempatkan lah menjenguk ayah dan tetap mengaji dengan ayah. Ini adalah kewajiban ayah selaku kepala keluarga untuk mengajak kebaikan pada kalian semua. …….… Ayah pengen momen kumpul keluarga seperti ini jangan sampai putus sampai ayah meninggal….”
Ibu, mbak, adek langsung menangis …
Hanya alfat kecil yang malah bobok sambil duduk …

..Nothing father else in this world, my best father just Ayah

/ Ayah,, alumnus UI - pustakawan ITS – Perumdos blok U 129
Alfat sang penghafal yang cuek dan memiliki senyum khas yang membunuh
Mas kangen senyum mu fat..

Sebagaimana dalam firman-Nya :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari "surat cinta untuk ayahku" ini (Andhi)

Kamis, 26 Juli 2012

Puasa, Tak Sekedar Menahan Makan dan Minum Lho !!

Ibadah puasa memiliki kedudukan tersendiri di sisi Allah. Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda sesuai kualitas puasa yang dilakukan seorang hamba. Semakin tinggi kualitas puasanya, semakin banyak pula pahala yang didapat. Yaitu puasa yang tidak sekadar menahan lapar dan dahaga.
Puasa merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah. Hal ini sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah berkata, ‘Kecuali puasa, maka Aku yang akan membalas orang yang menjalankannya karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsunya dan makannya karena Aku’.” (Sahih, HR. Muslim)
Hadits di atas dengan jelas menunjukkan betapa tingginya nilai puasa. Allah akan melipatgandakan pahalanya bukan sekadar 10 atau 700 kali lipat, namun akan dibalas sesuai dengan keinginan-Nya. Padahal kita tahu bahwa Allah Maha Pemurah, maka Dia tentu akan membalas pahala orang yang berpuasa dengan berlipat ganda.
Hikmah dari semua ini adalah sebagaimana tersebut dalam hadits, bahwa orang yang berpuasa telah meninggalkan keinginan hawa nafsu dan makannya karena Allah. Tidak tampak dalam dzahir (lahiriah)nya dia sedang melakukan suatu amalan ibadah, padahal sesungguhnya dia sedang menjalankan ibadah yang sangat dicintai Allah dengan menahan lapar dan dahaga. Sementara di sekitarnya ada makanan dan minuman.
Di samping itu, dia juga menjaga hawa nafsunya dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Semua itu dilakukan karena mengharapkan keridhaan Allah dengan meyakini bahwa Allah mengetahui segala gerak-geriknya.
Di antara hikmahnya juga yaitu karena orang yang berpuasa sedang mengumpulkan seluruh jenis kesabaran di dalam amalannya. Yaitu sabar dalam taat kepada Allah, dalam menjauhi larangan, dan di dalam menghadapi ketentuan takdir-Nya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya akan dipenuhi bagi orang-orang yang sabar pahala mereka berlipat ganda tanpa perhitungan.” (az-Zumar: 10)
Perlu menjadi catatan penting bahwa puasa bukanlah sekadar menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lainnya yang membatalkan puasa. Orang yang berpuasa harus pula menjaga lisan dan anggota badan lainnya dari segala yang diharamkan oleh Allah. Namun bukan berarti ketika tidak sedang berpuasa boleh melakukan hal-hal yang diharamkan tersebut.
Maksudnya adalah bahwa perbuatan maksiat itu lebih berat ancamannya bila dilakukan pada bulan yang mulia ini dan ketika menjalankan ibadah yang sangat dicintai Allah. Bisa jadi seseorang yang berpuasa itu tidak mendapatkan faedah apa-apa dari puasanya kecuali hanya merasakan haus dan lapar. Na’udzubillahi min dzalik.
Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang berpuasa agar mendapatkan balasan dan keutamaan-keutamaan yang telah Allah janjikan. Di antaranya:
1.    Setiap muslim harus membangun ibadah puasanya di atas iman kepada Allah dalam rangka mengharapkan ridha-Nya, bukan karena ingin dipuji atau sekadar ikut-ikutan keluarga atau masyarakatnya yang sedang berpuasa. Rasulullah bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)
2.    Menjaga anggota badannya dari hal-hal yang diharamkan Allah, seperti menjaga lisannya dari dusta, ghibah, dan lain-lain. Begitu pula menjaga matanya dari melihat orang lain yang bukan mahramnya baik secara langsung atau tidak langsung, seperti melalui gambar, film, dan sebagainya. Juga menjaga telinga, tangan, kaki, dan anggota badan lainnya dari bermaksiat kepada Allah. Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak peduli dia meninggalkan makan dan minumnya.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1804)
Maka semestinya orang yang berpuasa tidak mendatangi pasar, supermarket, mal, atau tempat-tempat keramaian lainnya melainkan ada kebutuhan yang mendesak. Karena biasanya tempat-tempat tersebut bisa menyeretnya untuk mendengarkan dan melihat perkara-perkara yang diharamkan Allah. Begitu pula menjauhi televisi, karena tidak bisa dimungkiri lagi bahwa efek negatifnya sangat besar baik bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa.
3.    Bersabar untuk menahan diri dan tidak membalas kejelekan yang ditujukan terhadapnya.
Rasulullah n bersabda dalam hadits Abu Hurairah:
“Puasa adalah tameng, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah, ‘Saya sedang berpuasa’.” (Sahih, HR. Muslim)
Dari hadits tersebut bisa diambil pelajaran tentang wajibnya menjaga lisan. Apabila seseorang bisa menahan diri dari membalas kejelekan maka tentunya dia akan terjauhkan dari memulai menghina dan melakukan kejelekan lainnya.
Sesungguhnya puasa itu akan melatih dan mendorong seorang muslim untuk berakhlak mulia serta melatih dirinya menjadi sosok yang terbiasa menjalankan ketaatan kepada Allah. Namun hasil yang demikian tidak akan didapat kecuali dengan menjaga puasanya dari beberapa hal yang tersebut di atas.
Puasa itu ibarat sebuah baju. Bila orang yang memakai baju itu menjaganya dari kotoran atau sesuatu yang merusaknya, tentu baju tersebut akan menutupi auratnya, menjaganya dari terik matahari dan udara yang dingin, serta memperindah penampilannya. Demikian pula puasa, orang yang mengamalkannya tidak akan mendapatkan buah serta faedahnya kecuali dengan menjaga diri dari hal-hal yang bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan pahalanya.(Faris)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Akankah Amalku Diterima?

          Dalam mengarungi lautan hidup ini banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah dalam hidup setiap orang. Diantara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat ia di dunia dan di akhirat. Namun diantara mereka tidak sedikit pula yang harus terkapar didalama kubang kegagalan di dunia dan akhirat karena hanya tidak mampu dalam menyingkirkan duri dan kerikil hidup tadi.
            Kerikil dan duri-duri hidup itu demikian banyak dan untuk menyingkirkannya jelas membutuhkan waktu yang sangat panjang dan butuh suatu pengorbanan yang tidak terhitung jumlahnya. Kita takut, jika seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah . Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan apakah ada orang yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?
            Maka sebelum semua itu terjadi, sekarang kesempatan kita untuk menjawabnya dan berusaha untuk menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang baik kecuali harus kembali kepada agama kita dan bimbingan Allah  dan Rasul-Nya. Allah  telah menjelaskan didalam Al-Qur’an bahwa satu-satunya jalan adalah dengan beriman dan beramal. Allah  berfirman :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, orang-orang yang saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran.” (Al-’Ashr: 1-3)
Allah  bersumpah dengan masa, menunjukkan waktu manusia yang kian berharga. Dengan waktu seseorang dapat memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shalih. Dengan waktu pula seseorang dapat terjerumus dalam perkara-perkara yang dimurkai Allah . Empat perkara yang Allah sebutkan dalam ayat tersebut yaitu tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan akhirat.
            Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan.
Iman adalah Ucapan dan Perbuatan
            Mengucapkan “saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan diucapkan di mulut. Namun bukan hanya dengan itu iman seseorang dapat menjadi sempurna. Ketika seseorang memproklamirkan dirinya beriman, ia memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima. Demikianlah tuntunan dari iman itu. Artinya, mengikrarkan keimanan berkonsekuensi untuk siap melaksanakan semua yang diperintahkan Allah  dan menjauhi semua yang telah dilarang-Nya baik itu berat ataupun ringan, disukai atau tidak.
            Konsekuensi iman banyak sekali macamnya. Kesiapan untuk menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada diatas ridha Allah  merupakan salah satu dari konsekuensi iman. Menerima apa yang telah diberitakan Allah  dan Rasulullah  tentang perkara-perkara ghaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau itu merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syariat Allah ,  mencintai serta membela mereka, juga merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian serta cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut juga merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.
            Allah  berfirman didalam Al-Qur’an :
“Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al-’Ankabut: 1-3)
            Rasulullah  juga bersabda :
“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqash)
            Dari sini jelaslah penjelasan tentang iman adalah ucapan dan perbuatan. Artinya, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Serta memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan dimana konsekuensinya adalah amal.
  Amal
            Amal merupakan konsekuensi dari iman dan memiliki nilai yang positif dalam mengarungi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada didalamnya. Terlebih apabila seseorang itu menginginkan kebahagiaan yang hakiki. Allah  telah menjelaskan hal ini didalam Al-Qur’an :
“Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 133)
            Maka telah jelas melalui ayat ini Allah  menyerukan kepada hamba-Nya agar bersegera untuk menuju kepada amal kebajikan dan bersegera untuk mendapatkan kedekatan disisi Allah  serta bersegera pula untuk mendapatkan surga-Nya
            Allah  berfirman :
“Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan.” (Al-Baqarah: 148)
            Rasulullah  juga bersabda :
“Bersegeralah kalian menuju amal shalih karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir. Dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan At-Tirmidzi)
            Dari hadist yang tersebut banyak pelajaran yang dapat kita ambil didalamnya. Diantaranya, wajibnya untuk beramal shalih sebelum datang perkara-perkara yang akan menghalanginya. Fitnah di akhir zaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir satu fitnah, maka akan muncul fitnah-fitnah yang lainnya.
            Kalau begitu apakah dengan beramal dengan penuh keuletan saja dapat diterima amal kita? Apakah hanya cukup dengan banyaknya amal saja sehingga dapat bertambah keimanan kita?
Syarat Diterimanya Iman

            Ada persyaratan yang harus dipenuhi agar amal kita dapat diterima Allah . Hal itu telah Allah  sebutkan sendiri dalam kitab-Nya dan Rasulullah  didalam hadistnya. Syarat itu adalah sebagai berikut :

            Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata karena Allah .
            Allah  berfirman :
“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)
            Rasulullah  bersabda :
“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
            Dari kedua dalil ini dapat kita ketahui bahwa syarat pertama untuk dapat diterima amal kita adalah ikhlas karena Allah  saja. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka tidak akan diterima oleh Allah .

            Kedua, amal tersebut harus sesuai dengan sunnah (petunjuk) rasulullah . Beliau bersabda :
“Dan barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah x)
            Dari dalil-dalil diatas, para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah  adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan rasulullah . Kalau salah satu dari keduanya tidak terpenuhi, maka tidak akan pernah diterima amal ibadahnya.
            Dari sini pula sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “yang pentingkan niatnya”. Tidak bisa demikian. Kalau istilah “yang penting niat” adalah benar, niscaya kita akan selalu membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah . Kita akan mengatakan pencuri, pezina, penipu, pelaku bid’ah(perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari rasulullah ), bahkan kesyirikan tidak bisa disalahkan hanya karena niat yang dianggapnya ‘masih benar’.
            Hal ini akan mengundang banyak pertanyaan. Diantaranya, bagaimana apabila seseorang mencuri namun dengan niatan untuk memberi nafkah anak dan istrinya, apakah perkara ini bisa dibenarkan? Apakah seseorang yang melakukan bid’ah dengan niat hanya ingin beribadah kepada Allah  adalah benar? Tentu jawabannya tidak.
            Karena itu dari pembahasan diatas dapat dipahami kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya amal atau tidak. Kemudian, sebelum melangkah lebih jauh untuk beramal hendaklah intropeksi kembali apa saja yang telah kita lakukan, tanya kembali pada diri kita : Untuk siapa sebenarnya saya beramal? dan bagaimanakah cara benar yang sesungguhnya?
            Jawabannya cukup dengan kedua syarat diatas.
            Masalahnya bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amal tersebut. Allah  berfirman :
“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup agar menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al-Mulk: 2)
            Diayat tadi Allah  mengatakan yang paling baik dan benar amalannya, bukan mengatakan paling banyak amalannya. Amal yang baik adalah amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran rasulullah  sebagai syarat agar diterima amalnya dan sesuai dengan makna Laa ilaaha illallah-Muhammadur Rasullah.(Faris)
            Wallahu a’lamu bish-shawab
Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun".

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls